![]() |
| penjual semanggi |
Di tengah perjalanan pulang, ia berjumpa Rohmat, teman satu sekolahnya dulu. Berkaos lusuh terbaur celana kolor yang kumal, Rohmat menjajakan semanggi dengan suara melengking. Joni ragu pada penglihatannya.
"Mat?"
Memang Rohmat yang dia sapa. Lalu keduanya saling bertanya kabar dan nostalgia.
Sekolah adalah tempat yang romantis untuk membolos dan mencuri hati para gadis.
"Kenapa tak mencoba melamar saja Mat? Haha, maksudku melamar kerja. Bukan melamar si itu. Kau kan pintar utak-atik motor."
"Aku sudah sering pindah bengkel Jon, tapi lebih sering aku tak cocok. Ini yang paling cocok untukku."
"Ah, seharusnya kamu bisa lebih dari ini Mat. Kamu punya skill."
"Tapi aku sudah tak punya feel, Jon. Kalau begini, aku bisa punya kesempatan untuk menemani embok dan juga punya waktu untuk menulis."
"Masih saja kausimpan mimpi itu Mat. Menjadi penulis itu mimpi kita, dulu. Tapi mimpi tetaplah mimpi kalau kenyataan di depan mata begitu sulit terbaca."
"Ya, bodohnya aku tak mampu menyadari kenyataan Jon. Tapi untukmu, kenyataan adalah jalan tol yang lebar. Jadi sarjana dan kerja di pemerintahan. Lha aku? Apa lagi yang kupunya selain mimpi itu Jon?"
Angin berdesir tegas menyibak daun dan ranting di atas keheningan yang menyelimuti dua kawan lama itu. Desiran angin itu setegas nasib yang sedang menampar pipi keduanya.
"Cobalah semanggi bikinan embokku ini Jon, kata orang ini semanggi paling enak di dunia." Keduanya tertawa terbahak-bahak.
Joni melahap semanggi yang Rohmat racik khusus untuknya. Menciduk sayuran dan bumbu dalam pincuk daun pisang itu dengan kerupuk puli. Kerupuk dari beras yang bila digigit suaranya seperti suara suka cita.
Joni memakannya sampai habis. Tak menyisakan sedikit pun semanggi atau krupuk untuk dibuang kecuali pincuk daun pisang. Lalu, sekenanya dia berkata, "wah, pakai bumbu apa semanggi ini Mat? Dahsyat!"
"Entahlah," jawab Rohmat dengan senyum yang terlalu lebar, "mungkin embok membumbuinya dengan cinta." Lalu keduanya terbahak lagi lebih keras, diikuti cericit burung pipit dan kepakan sayap terburu-buru.
Pemandangan ladang alang-alang yang melatari dua orang yang sedang bercengkrama itu tampak sungsang. Rumput-rumput itu tinggi menusuk gedung-gedung dan atap rumah yang saling bersikutan.
"Kenapa tak kaubuat saja kedai semanggi bernama embokmu Mat? Lalu bayar pegawai untuk menjaganya, jadi kamu punya lebih banyak waktu untuk menulis, kan?"
"Entahlah, embok bilang, bukan semanggi namanya kalau tidak digendong."
Joni menopang dagu, matanya melihat entah yang sangat jauh.
"Tapi, embok selalu menerima siapa saja yang mau belajar membuat semanggi Jon. Tak pernah embok meminta upah. Cukup banyak yang belajar ke embok. Bahkan, tiap bulan mereka yang sudah berjualan sendiri selalu datang sowan ke embok." Rohmat diam sebentar untuk menelan ludah.
"Setiap kali datang, embok selalu dapat amplop. Jumlahnya bukan main, seandainya embok berhenti membuat semanggi sekarang, uang bulanan dari muridnya-muridnya itu tak akan pernah kurang.
"Entahlah Jon, aku hanya menuruti kata embok saja asal dia senang. Uang-uang itu dia berikan padaku, lalu dia minta aku menebus lahan di belakang rumah. Sebagian untuk menanam semanggi. Sebagian untuk didirikan masjid."
"Murid embokmu juga menggendong semanggi, Mat?"
"Entahlah. Mereka datang sebentar, sungkem ke embok, meninggalkan amplop, lalu pergi lagi. Ada satu amplop yang datang dari salah satu muridnya, yang ada kop surat perusahaannya. UD Semanggi Mbok Ja kalau tak salah. Embok, embok, namanya sudah jadi nama perusahaan."
Mata Joni terbelalak. "Jadi restoran Semanggi Mbok Ja itu.... Oalah. Iya ya, kok aku nggak kepikiran. Wah, pantas aku seperti sudah pernah makan semanggi embokmu, tadi."
"Oh, restoran? Ya, ya. Embok cuma setia dengan semanggi yang digendong."
Joni masih saja terkesima memandang Rohmat, seolah tak percaya.
"Embok juga menyuruhku membeli lahan di utara sana, yang sekarang jadi Madrasah Habibullah. Katanya, embok ingin supaya lebih banyak orang yang bisa sekolah. Tidak seperti dia, SD saja tak tamat."
"Gila kamu Mat! Anakku sekolah di sana."
"Sumpah, aku nggak gila Jon. Aku juga mengajar di sana. Karena bukan sarjana, aku memilih untuk menjadi guru ekstranya saja. Setiap sabtu sore aku mengajak murid-murid untuk berimajinasi lalu menuangkannya dalam kata-kata."
"Kalau bukan kamu yang gila, berarti aku, Mat. Ke mana saja aku sampai tak tahu kalau guru menulis anakku adalah teman baikku."
"Ah, berlebihan kamu Jon. Ayolah, main-mainlah ke rumah, kapan-kapan. Ajak anak dan istrimu. Aku harus lanjut berjualan Jon. Sejak kemarin Embok sakit, jadi aku yang menggantikan."
"Lalu siapa yang menjaga embokmu?"
"Oh, ada istri dan anakku. Embok yang menyuruhku keliling. Katanya, kasihan pelanggan embok yang menunggu.
"Sudah ya Jon, aku harus cepat-cepat, sebab nanti sore aku punya janji dengan orang. Dia mau datang ke rumah. Orang penerbitan Jon, katanya tertarik dengan karyaku. Ah, semoga saja."
Rohmat berjalan, bakul semanggi yang membebani punggungnya bergerak-gerak. Sementara, Joni masih berdiri di tempat yang sama. Masih memandang Rohmat yang sudah tak terlihat.
"Tentu saja, Mat. Tentu saja..."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar