Senin, 28 Februari 2011

Hari yang Cengeng dan Berwarna Sama

Ibu… i-be-u-bu… ibu, eja seorang bocah yang ditujukan kepada ibunya. Saya mengira bocah itu hanya bermain-main dengan cara mengeja yang didapatnya di sekolah. Ternyata, yang dilakukan oleh anak itu tidak hanya sekadar mengeja. Ia sedang merayu ibunya, meminta agar ibunya membelikan mainan seperti yang dimiliki oleh temannya. Ibunya sedang mengaduk secangkir kopi, sementara bocah itu duduk di amben di belakang ibunya.
A... ye-a-yah... Ayah. Nanti minta ke ayah ya... jawaban ibunya itu ternyata sudah tidak menjadi perhatian si bocah. Perhatiannya beralih pada HP ibunya yang dilengkapi fitur pemutar musik. Ia memutar sebuah lagu populer dari band lokal yang mungkin sedang naik daun. Saya sendiri tidak mengenal dengan baik nama band itu, hanya saya sering mendengar lagunya.

Lucunya, bocah itu ikut bernyanyi-nyanyi kecil seraya meniru irama vokal dan lirik lagu yang sedang diputar. Lebih menggelikan lagi, bocah itu mengangguk-angguk kecil sesuai irama lagu dan sesekali menggeleng-geleng, matanya merem-melek, juga mengerutkan dahi ketika menirukan nada tinggi. Saya jadi teringat ekspresi teman-teman saya yang mungkin usianya terpaut sangat jauh dengan bocah ini saat menikmati musik.
Begitulah. Anak-anak saat ini lebih akrab dengan lagu-lagu dewasa yang temanya adalah hal-hal yang juga dewasa. Mereka ini sebenarnya hanya meniru perilaku orang-orang di sekitarnya, juga meniru menyukai lagu-lagu populer yang sering didengarkan oleh orang-orang dewasa. Contoh hasil meniru itu ya ekspresi bocah tadi saat bernyanyi-nyanyi kecil sambil mendengar musik dari HP ibunya.
Namun, saya bertanya-tanya apa iya mereka juga paham dengan lirik lagu-lagu dewasa itu? Apa iya, untuk kasus bocah itu, ia juga paham apa maksud kata i love you atau cinta dalam lirik lagu dari pemutar musik di HP ibunya?
Sayang, saya belum sempat meriset apa akibat langsung dan tak langsung kepada anak-anak yang pada usianya sudah disodori masalah-masalah orang dewasa, apalagi yang sifatnya cengeng seperti tema-tema lagu populer kebanyakan. Semoga saja kalau sampai akhirnya saya meriset nanti hasilnya tidak seperti yang saya duga: generasi muda terancam lemah dan cengeng karena sudah mengenal musik-musik cengeng sejak usia bocah. Semoga saja tidak ada akibat apapun.
Saya ingat betul, dulu saat saya masih bocah ingusan yang baru duduk di bangku sekolah dasar, saya suka mendengarkan lagu anak-anak seperti si lumba-lumbanya Bondan Prakoso, cita-citaku-nya Kak Ria Ernes dan Susan, atau lagu anak-anak lain dari penyanyi cilik seperti Trio Kwek Kwek, juga lagu-lagu Joshua, yang terkenal saat itu berjudul diobok-obok.
Jarang sekali kita menemukan lagu anak-anak seperti itu, sekarang ini. Mungkin karena penyanyi anak-anak yang dulu saya suka kini telah menjadi remaja. Para penyanyi cilik ini kemudian beralih menyanyikan lagu-lagu remaja dan dewasa yang kebanyakan bertema cinta dan mengangkat hal-hal yang juga kebanyakan sifatnya cengeng. Bahkan Joshua yang sempat menjadi ikon penyanyi anak-anak itu kini beralih profesi menjadi seorang bintang film.
Karena itulah bocah yang sedang merayu ibunya lantas demikian cepat beralih perhatiannya dengan keasyikan mendengarkan lagu-lagu populer dari HP ibunya. Bahkan, bocah itu sampai hafal lirik lagu yang mungkin dia sendiri tidak paham apa maksudnya. Kalaupun ada penyanyi-penyanyi cilik yang bermunculan belakangan ini, misalnya di ajang pencarian bakat di televisi-televisi swasta, anak-anak itu diarahkan untuk menyanyikan lagu-lagu dewasa yang sekali lagi saya katakan kebanyakan sifatnya cengeng.
Tidak lama kemudian, seorang laki-laki duduk di samping bocah itu, di amben yang sama, lantas mengajak bocah itu berbincang canggung. Bocah itu menjawab sekenanya. Lantas, bocah dan laki-laki itu sama-sama menikmati musik dari HP milik ibu si bocah. Keduanya sama-sama bernyanyi kecil menirukan lagu. Mengumbar ekspresi yang sama-sama menikmati dan sama-sama unik. Tadinya saya mengira laki-laki itu ayahnya. Ternyata bukan.
Barulah saya tahu bahwa laki-laki itu menunggu ibunya selesai mengaduk secangkir kopi dan segelas teh terakhir. Laki-laki itu yang kemudian menggantikan pekerjaan ibunya untuk shift selanjutnya, sore hingga hampir tengah malam di warung kopi. Secara tidak langsung laki-laki itu juga memberitahukan kepada saya bahwa ayah bocah itu sedang bekerja, mengatur parkir kendaraan di masjid Al-Falah Surabaya yang letaknya hanya beberapa meter dari warung itu.
Sore itu mendung. Tidak lama kemudian hujan lewat. Hanya sebentar saja. Setelah terang, ayah bocah itu mampir ke warung. Mereka lantas pulang. Saya lihat jam tangan, sudah pukul lima. Ah, pas sekali. Ibu saya pasti sudah selesai mengaji di masjid Al-Falah. Ini juga waktunya ibu saya pulang. HP saya berbunyi, pesan dari ibu. Kebetulan sekali bapak mau menjemput ibu. Saya tinggal menunggu di sini hingga waktunya saya mengaji, pukul setengah delapan malam.

***

Malamnya, usai mengaji, saya berpindah tempat cangkrukan lesehan di belakang kampus Airlangga Surabaya bersama saudara laki-laki saya. Di sana, saya menemukan seorang bocah yang usianya mungkin hampir sama dengan bocah di warung kopi tadi sore, sedang mengamen berbekal lagu-lagu yang juga bertema sama (lagu cengeng) dengan tepuk tangan sebagai pengiring irama.
Bocah itu berkaos lusuh, dekil, membawa segelas plastik yang berisi hanya beberapa uang receh. Pada giliran saya, ia meletakkan gelas plastik itu, kemudian mulai bernyanyi sambil bertepuk tangan. Hei, ke mana orang tuamu di saat kamu seharusnya sudah tidur? Saya tidak menanyakannya, saya lantas memberi selembar uang seribu begitu saja. Jadi teringat lagu Iwan Fals, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu.
Saya tidak menyayangkannya. Hanya, saya yakin betul bahwa tempaan keadaan pada bocah pengamen itu kelak akan menjadikannya sebagai laki-laki yang tidak cengeng. Tidak seperti tema lagu-lagu yang dinyanyikannya untuk orang-orang dewasa yang sedang menikmati kopi dan mengobrol ke sana ke mari, yang mungkin juga tentang hal-hal yang cemen (saat itu saudara saya sedang bercerita tentang masalahnya dengan pacarnya).
Omong-omong soal pengamen, saya teringat ketika saya berada di Yogyakarta beberapa tahun lalu saat saya baru saja lulus SMA dan sedang berlibur ke sana. Di sebuah warung lesehan pecel lele di wilayah kampus Gajah Mada, seorang pemuda mengamenkan lagu-lagu barat yang beberapa diantaranya saya suka. Seperti lagu hey jude-nya Beatles atau creep-nya Radiohead.
Saat itu saya berpendapat, ini dia pengamen yang serius. Sebab selain berbekal suara yang enak didengar pemuda itu juga memiliki kemampuan bergitar yang tidak bisa dibilang pas-pasan. Saya senang sebab ia menyanyikan lagu hingga habis. Barulah setelah satu lagu habis ia menyodorkan gelas plastik yang telah berisi uang kertas seribuan, recehan, dan beberapa batang rokok pada para pengunjung warung pecel lele itu.
Cara mengamen demikian, dengan memerhatikan penampilan, membuat orang-orang yang diameni tidak segan mengeluarkan uang seribu atau lima ribu. Saya pun patungan seribuan dengan teman-teman yang berjumlah lima orang sebagai imbalan kepadanya. Saya sebut imbalan sebab saat itu kami memang merasa terhibur dengan apa yang disuguhkan oleh pemuda itu.
Ternyata mengamen juga bisa menjadi sangat profesional. Tidak hanya ajang mencari sejumlah uang recehan atau beberapa batang rokok sebagai modal dan pelengkap acara minum arak.
Saya juga ingat, di tempat cangkrukan lesehan yang sama di mana saya menemui bocah pengamen itu, beberapa waktu sebelumnya saya sering menemui seorang laki-laki yang membawa serta seorang perempuan yang selalu mengendong bayi mengamenkan beberapa lagu ciptaanya sendiri. Saya menduga perempuan dan bayi itu adalah istri dan anaknya.
Nah, fenomena apa lagi ini? Ingatan-ingatan itu lantas membawa saya untuk berkesimpulan bahwa mengamen itu juga pekerjaan layak untuk menafkahi keluarga, asal yang dinafkahi juga tidak keberatan. Mengamen bisa digolongkan sebagai pekerjaan di bidang jasa hiburan, yang perlu menampilkan citra-citra khusus untuk menarik perhatian konsumen. Misalnya efek dramatisasi yang muncul karena pengamen itu membawa istri dan anaknya (meski ada kemungkinan perempuan dan bayi itu bukan istri dan anaknya).
Menurut saya, mengamen sama dengan berdagang, yang mana pada kasus laki-laki pembawa istri dan bayi itu, di situ ada barang berupa lagu ciptaan sendiri, (atau kalau tidak ada lagu ciptaan sendiri) ada jasa menyanyikan dengan maksud menghibur pendengarnya, lalu ada bayaran sukarela dari penikmatnya. Pencitraan istri dan bayinya itu hanya bumbu pelezat saja. Kalau tidak ada uang ya sudah, namanya juga dagang. Berarti belum menjadi rezeki bagi si pengamen dan demikian juga tidak akan menjadi rezeki bagi yang diameni.
Laki-laki yang memboyong istri dan anaknya itu juga memiliki kemampuan vokal yang tidak bisa dibilang pas-pasan. Caranya bermain gitar pun khas seorang musisi jalanan, lengkap dengan pick dan irama genjrengan yang tidak sembarangan. Enak di telinga. Jadi, jangan samakan mengamen seperti mengemis. Sebab mengamen seperti yang saya maksud di atas adalah mengamen yang diimbangi dengan kemampuan musik di atas rata-rata. Kecuali terpaksa karena tidak memiliki keahlian lain yang lebih baik.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa mengemis itu jauh lebih buruk dari mengamen. Meski tidak bisa dibilang sebagai pekerjaan, mengemis menurut saya juga suatu usaha ketika usaha-usaha yang lain tidak mungkin dilakukan. Kalau bisa mengamen, ya mengamen lebih baik. Hanya, jangan mengamen kalau ternyata yang diameni merasa terganggu karena suara yang tidak sedap di telinga, atau karena suara gitar sumbang yang bikin mual. Lebih baik mengemis saja. Hanya, ya jangan memaksa.

***

Akhirnya saya pulang ke rumah. Saat itu pukul tiga pagi. Tapi saya belum bisa tidur. Ingatan saya kembali ke peristiwa-peristiwa yang terjadi hari itu. Entah kenapa peristiwa di warung kopi sore dekat masjid Al-Falah membuat saya merasa seperti ada sesuatu yang naik dari dada ke kepala dengan cepat, seperti ketika roller coaster melaju dari tanjakan ke turunan secara tiba-tiba, dan ini menimbulkan perasaan yang, kurang lebih, cengeng.
Begitu pula dengan bocah pengamen jalanan ketika malam di tempat cangkrukan lesehan. Sama-sama menimbulkan perasaan yang warna cengengnya sama. Tapi sekonyong-konyong saya tidak membenarkan bahwa perasaan cengeng ini berwarna sama dengan cengengnya lagu-lagu populer yang dinikmati oleh bocah di warung kopi dan yang dinyanyikan oleh bocah pengamen di tempat cangkrukan lesehan.
Saya mengolah fenomena-fenomena itu hingga pada kesimpulan yang sangat klise bahwa hidup ini ternyata penuh dengan ikhtiar, penuh usaha dan perjuangan yang bukan main-main skalanya. Tidak terbatas oleh usia, waktu, gender, dan hal-hal lain yang memunculkan oposisi biner.
Apakah fenomena itu berbanding lurus dengan kemiskinan? Benar. Tapi membincangkan soal kemiskinan di sini akan merusak tujuan saya untuk mencitrakan bahwa negeri ini tidak melulu tentang padat penduduk, terdiri dari berbagai etnis, ras, dan agama, atau kurang layaknya kehidupan dan kesejahtaraan masyarakat marginal yang ternyata sangat dominan. Selain itu, membincangkan kemiskinan di sini akan membawa pada ranah politis yang tidak perlu. Karena memang demikian, ranah politis sudah terlalu sering memberikan janji-janji palsu dan membosankan.
Membincangkan soal kemiskinan akhirnya juga sampai pada taraf perbincangan yang klise dan sudah tidak perlu dipanjanglebarkan. Sebab seharusnya, kemiskinan bukan lagi menjadi sesuatu yang patut dibincangkan melainkan dipikirkan. Semacam menjadi semangat belajar bagi setiap individu di negeri ini agar terhindar dari kata itu dan terus melakukan usaha untuk keluar dari zona degradasi hidup. Semangat inilah yang seharusnya terus disebarluaskan, ditularkan, seluas-luasnya dan secepat-cepatnya, secepat virus AIDS yang belum ada obatnya.
Lantas apakah bocah di warung kopi sore itu mendapatkan mainan seperti yang dimiliki temannya? Apakah bocah pengamen malam itu juga mendapatkan uang yang cukup untuk, mungkin, membayar uang sekolah? Entahlah. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kalau ya menjadi sesuatu yang happy ending, kalau tidak menjadi sesuatu yang sad ending. Keduanya juga cengeng-cengengan. Hidup ini sulit untuk diterka, dan lebih baik biarkan seperti itu agar dianya lebih berwarna.


Denza Perdana
Surabaya, 22 Januari 2010
17:53 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar