Adalah keponakan saya bernama Dani dan Baim. Dani yang besar dan Baim
yang kecil. Keduanya laki-laki. Keduanya laki-laki mungil. Dan, keduanya
laki-laki mungil yang lucu-lucu.
Ceritanya, Dani sedang naik
sepeda beroda tiga untuk balita yang dibelikan ayah ibunya yang sepupu
saya. Sepeda itu sudah mulai rusak sebab Dani, kata ibunya, nakal minta
ampun. Bagian pengaman di sandaran sadel sepeda itu sudah mulai copot.
Lalu, ada tinta putih penghapus bolpoin di mana-mana.
Berbeda dengan Baim, Dani adalah keponakan saya yang dominan. Nakal
memang. Tapi punya keunikan. Selain sifatnya yang tidak mau mengalah,
baik kepada kakaknya, Diky, maupun kepada adiknya, Baim, Dani selalu
menggunakan bahasa ibu untuk berkomunikasi. Bahasa jawa ngoko yang biasa
digunakan nenek, ibu, dan ayahnya di rumah. Ibunya sampai menjulukinya
"katrok".
Baim yang lebih kecil, yang belum mampu berjalan
sendiri dan berkomunikasi lewat rengekan, gumaman, dan tangisan,
merengek meminta naik di sepeda yang sedang dipakai kakaknya. Dani tidak
mau mengalah. Baim hampir menangis. Sementara, ibu dan neneknya sedang
mengobrol dengan ibu saya tentang pengalaman umroh nenek Dani dan Baim
yang juga Budhe saya.
Melihat baim yang merengek dan hampir
menangis, saya tak tega. Keponakan saya yang kecil ini tak punya daya
menghadapi kakaknya yang serba tak mau mengalah. Saya pun menengahi.
Saya bujuk Dani agar mau memberi kesempatan adiknya untuk naik sepeda.
Tapi dani bilang, "emoh!" Lalu Baim yang mengerti merengek sambil
menarik-narik baju kakaknya. Dani tetap bilang "EMOH!"
Saya pun
memberi solusi agar keduanya bisa bermain bersama. Saat Dani yang masih
menguasai sepeda sedikit lengah, mengambil sebuah truk-trukan miliknya
di lantai dengan sedikit membungkuk, saya cepat-cepat menggendong Baim
dan menempatkannya di sadel sepeda di belakang kakaknya. Jadilah
adik-kakak yang keponakan saya itu berboncengan.
Lalu saya meminta Tia, kakak sepupu Dani dan Baim yang berusia 10 tahunan dan bertubuh gendut, untuk mendorong sepeda itu.
Jadilah Dani berboncengan dengan Baim di atas sepeda roda tiga yang
didorong Tia gendut yang keponakan saya. Ketiganya gembira. Ibunya yang
melihat itu tertawa.
Tiba-tiba, Baim melambaikan tangannya
sambil bergumam "lala", yang maksudnya adalah dah dah, kepada ibu,
neneknya, dan ibu saya yang sontak berhenti mengobrol dan tertawa
bersamaan.
Saya tentu tertawa gembira melihat peristiwa yang
balita itu. Saya duduk sambil tertawa sebagai orang dewasa yang melihat
dua balita keponakan saya berboncengan naik sepeda sambil salah satunya
mengucap "lala." Saya tertawa karena saya ingat bahwa saya orang dewasa
yang pernah jadi balita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar