Senin, 25 Juni 2012

Balita

Zaki
Adalah keponakan saya bernama Dani dan Baim. Dani yang besar dan Baim yang kecil. Keduanya laki-laki. Keduanya laki-laki mungil. Dan, keduanya laki-laki mungil yang lucu-lucu.

Ceritanya, Dani sedang naik sepeda beroda tiga untuk balita yang dibelikan ayah ibunya yang sepupu saya. Sepeda itu sudah mulai rusak sebab Dani, kata ibunya, nakal minta ampun. Bagian pengaman di sandaran sadel sepeda itu sudah mulai copot. Lalu, ada tinta putih penghapus bolpoin di mana-mana.

Berbeda dengan Baim, Dani adalah keponakan saya yang dominan. Nakal memang. Tapi punya keunikan. Selain sifatnya yang tidak mau mengalah, baik kepada kakaknya, Diky, maupun kepada adiknya, Baim, Dani selalu menggunakan bahasa ibu untuk berkomunikasi. Bahasa jawa ngoko yang biasa digunakan nenek, ibu, dan ayahnya di rumah. Ibunya sampai menjulukinya "katrok".

Baim yang lebih kecil, yang belum mampu berjalan sendiri dan berkomunikasi lewat rengekan, gumaman, dan tangisan, merengek meminta naik di sepeda yang sedang dipakai kakaknya. Dani tidak mau mengalah. Baim hampir menangis. Sementara, ibu dan neneknya sedang mengobrol dengan ibu saya tentang pengalaman umroh nenek Dani dan Baim yang juga Budhe saya.

Melihat baim yang merengek dan hampir menangis, saya tak tega. Keponakan saya yang kecil ini tak punya daya menghadapi kakaknya yang serba tak mau mengalah. Saya pun menengahi.


Saya bujuk Dani agar mau memberi kesempatan adiknya untuk naik sepeda. Tapi dani bilang, "emoh!" Lalu Baim yang mengerti merengek sambil menarik-narik baju kakaknya. Dani tetap bilang "EMOH!"

Saya pun memberi solusi agar keduanya bisa bermain bersama. Saat Dani yang masih menguasai sepeda sedikit lengah, mengambil sebuah truk-trukan miliknya di lantai dengan sedikit membungkuk, saya cepat-cepat menggendong Baim dan menempatkannya di sadel sepeda di belakang kakaknya. Jadilah adik-kakak yang keponakan saya itu berboncengan.

Lalu saya meminta Tia, kakak sepupu Dani dan Baim yang berusia 10 tahunan dan bertubuh gendut, untuk mendorong sepeda itu.

Jadilah Dani berboncengan dengan Baim di atas sepeda roda tiga yang didorong Tia gendut yang keponakan saya. Ketiganya gembira. Ibunya yang melihat itu tertawa.

Tiba-tiba, Baim melambaikan tangannya sambil bergumam "lala", yang maksudnya adalah dah dah, kepada ibu, neneknya, dan ibu saya yang sontak berhenti mengobrol dan tertawa bersamaan.

Saya tentu tertawa gembira melihat peristiwa yang balita itu. Saya duduk sambil tertawa sebagai orang dewasa yang melihat dua balita keponakan saya berboncengan naik sepeda sambil salah satunya mengucap "lala." Saya tertawa karena saya ingat bahwa saya orang dewasa yang pernah jadi balita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar