![]() |
| Kodok dalam panci |
Mungkin tidak seperti itu mimpi buruk saya. Tapi cukup menggambarkan suasana hati saya belakangan ini. Ditambah lagi, pagi-pagi sekali saya sudah disuguhi cerita "Kodok dalam Panci." Kodok yang senang berada di air ternyata tidak sadar dirinya berada ada di lingkaran bahaya.
Kodok yang sedang berendam lantas keenakan ketika kompor di bawah panci dinyalakan. Awalnya sang kodok merasa airnya bertambah hangat. Seperti mandi di pemandian air panas di Pacet, pikirnya. Namun, untuk beberapa lama kodok akhirnya menyadari bahwa dirinya telah siap untuk dihidangkan dan mati.
Bagaimana bisa manusia menyamakan manusia dengan kodok yang tiba-tiba ada dalam sebuah panci yang siap memasak swikee rebus? Tapi adik ibu saya itu memang menganalogikan kodok dalam panci seperti orang-orang yang sedang berada di jalur yang "Nyaman."
Untuk beberapa tahun menikmati kehidupan, merasakan bahwa dirinya serba tidak kekurangan. Pada usia yang mendekati akhir, barulah orang itu sadar, bahwa dirinya hampir mirip dengan nasib kodok di dalam panci. Menjadi Swikee rebus dalam keadaan mati.
Ah, apa salah saya sebenarnya? Haruskah saya merasa bersalah karena telah beralasan macam-macam untuk menghindari ajakan adik ibu saya yang sudah hampir lima kali, untuk bergabung dalam grup asuransi jiwanya? Cerita-cerita lain, yang salah satunya cerita kodok dalam panci tadi, memang menciutkan saya.
"Menjadi pebisnis asuransi tak pernah ada ruginya. Seperti orang madura yang melihat sesuatu dan mulai menawarnya, 'berapa saya bisa dapat untung dari barang ini?' Karena orang madura selalu melihat untungnya. Lihatlah orang-orang asuransi yang bisa bergaji 350juta per bulan," bujuk adik ibu saya itu.
Hampir saya bilang, anda itu tikus. Tapi saya akhirnya bisa menerima bahwa adik ibu saya adalah agen yang dikirim kepada saya untuk tidak mudah menyerah. Mungkin bukan sarannya untuk mengikuti asuransi yang saya turuti. Tapi saran dari kekuatan Yang Maha Suci, lewat adik ibu saya, agar saya tidak mudah gelisah, dan jatuh dalam kubangan kata menyerah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar