![]() |
| Raja Kecil |
Memang sah-sah saja. Juga tidak salah-salah amat, sebenarnya. Dulu, selain jabatan itu menghasilkan banyak duit, juga menjadikan pribadi itu lebih terpandang.
Hanya saja, sekarang, tujuan itu dari zaman ke zaman semakin bergeser dan semakin kebacut rupanya.
Cari jabatan. Bukan cuma duitnya lebih besar, bukan cuma lebih terpandang, tapi karena sekarang jadi lebih banyak kesempatan. Rupanya, kasus yang dialami Sis Neni itu cuma efek sampingan.
Jabatan kini juga disempat-sempatkan untuk membangun dan memperkuat kerajaan dalam arti se-konotatif-konotatif-nya.
Kerajaan itu dipelihara dengan siraman keringat yang diperas dari rakyat. Diperluas dengan pupuk kebodohan yang diproduksi pabrik masif bernama sekolah gratis. Lalu diperkokoh dengan tembok pertahanan bernama Gerakan-Anti-Korupsi.
Oalah Gusti. Nelongso benar nasib kami. Bahkan payung tempat bernaung pejuang-pejuang kritik penuh vitalitas dan anti toleransi berlabel media informasi itu kini serupa singgasana raja-raja itu.
Sedangkan pejuang kritiknya yang dikenal sebagai pers, cukup banyak yang berlaku seperti penyanyi dangdut. Belum habis lagu sebait harus ada sawer yang sudah dikempit.
Gara-gara duit, Gusti. Gara-gara duit.
"Kerja juga untuk cari amal, le." Begitu lanjut ibu saya. Bolak-balik ibu belajar ke ustadz. Belajar mengaji juga menggali.
"Kalau kata ustadz, lalu kita harus bagaimana bu? Apa memang sudah takdir seperti ini?"
"Kata ustad, le, Gusti Pangeran Maha Pencipta. Gusti menciptakan orang-orang seperti itu untuk menguji kita."
Gusti...! Apa memang begitu? Apa boleh hamba salahkan Engkau karena ciptakan orang-orang yang jadi raja selundupan dalam kerajaan-Mu? Yang menghisap madu dunia dari kening sesamanya?
Gusti, hamba yakin ini bukan salah-Mu....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar