Namanya Mas Cip, begitu almarhum dipanggil oleh istri dan teman-teman istrinya. Panggilan itu tak berlaku untuk anak-anaknya, yang memanggilnya Pah atau Yah. Anak-anak yang sekarang tak bisa bertemu orang yang mereka panggil Pah atau Yah, lagi.
Kematian telah menculiknya dari hidup yang tak pernah kekal. Hidup yang memberi kesempatan manusia untuk mencari hal-hal yang baka. Mencari dari dalam diri, dari orang lain, dari tumpukan materi dunia, bahwa selalu ada jalan untuk pulang lagi.
Manusia memindah pengalaman-pengalaman mata menjadi pengalaman-pengalaman makna. Makna yang tersampaikan atau tak sampai lantaran kendala bahasa. Bahasa yang bicara maupun bahasa yang diam-diam saja. Diam yang penuh munajat dan doa.
Sedangkan, manusia termaknai lewat kematiannya. Makna yang tertinggal pada setiap yang mengenangnya.
Saya memaknai Mas Cip sebagai seorang Suami yang baik. Seorang pejuang keluarga dan negaranya. Mengingat pekerjaan yang almarhum lakukan sebagai seorang Tentara.
Almarhum juga ayah yang baik bagi anak-anaknya. Sebab setiap suami yang mencintai istrinya selalu mencintai anaknya lebih dari dirinya.
Ini adalah obituari tentang seorang lelaki yang meninggalkan istrinya. Istri yang rapuh karena sebelah hatinya pergi. Pergi untuk selamanya meninggalkan senyum dan tawa untuk diingat dalam tangis yang nelangsa.
Ini juga obituari tentang sedih yang membuat istrinya lupa. Lupa bagaimana indah mencintai dan dicintai seorang manusia. Sedih yang sirna dan mati setelah terdengar tawa dan canda anak-anaknya. Sedih yang menjdi racun berbahaya, sedangkan cinta bagi mereka, adalah ASI yang sempurna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar