Rasa Bersalah
Entah kenapa, sepanjang
kilometer Probolinggo—Sidoarjo di atas bus
hari ini, saya begitu merasa bersalah. Padahal, ini sebenarnya bukan salah
saya. Salah kondekturnya selalu melewatkan saya yang duduk di bangku paling
pojok bagian paling belakang dan paling kanan, ketika meminta uang karcis
penumpang.
Sementara, orang di
sebelah kiri saya tertidur, bersandar, tegak lagi, lalu bersandar lagi di
pundak saya. Tidak lama memang, tapi saya khawatir terlalu nyaman buatnya dan
tidak untuk saya.
Bagaimana tidak, selain orang di sebelah kiri
saya itu laki-laki, akhirnya saya tahu kenapa saya selalu dilewatkan ketika
hendak membayar uang sebagai seorang penumpang. Orang di sebelah kiri saya itu
adalah kenalan si kondektur, yang juga seorang pegawai terminal, yang sedang
"nunut" sampai ke tujuan. Mungkin di surabaya.
Saya mungkin dikira kenalan orang di sebelah kiri saya itu
sehingga selalu dilewatkan oleh si kondektur. Ah, apa-apaan ini. Saya jadi
merasa bersalah. Merasa tidak tenang dan nyaman sepanjang kilometer yang
mengumbar peluh itu. Iya, bau keringat saya sendiri saya tidak tahan, apalagi
orang lain. Saya jadi merasa bersalah lagi. Saya berkeringat karena saya merasa
bersalah, dan saya merasa bersalah lagi.
Selain itu, ketika orang di sebelah kiri saya itu bersandar
agak lama di pundak saya. Saya pun mulai memikirkan hal-hal yang diawali kata
"jangan-jangan," dan menurut saya, hal-hal yang diawali kata ulang
tersebut selalu bersifat kecurigaan. Saya curiga kalau sampai orang di sebelah
kiri saya itu ngiler dan air liurnya menetes di pundak saya.
Entah, kalau sampai itu terjadi, jadi seperti apa bau saya.
Bisa kalah bau kambing yang lebih harum saat disate itu. Dan bila itu terjadi,
pasti akan bertambah lagi rasa bersalah saya.
Untung saja, hal yang diawali kata ulang jangan-jangan itu
tidak terjadi. Dan untung saja, setelah agak lama bersandar di pundak saya
orang di sebelah kiri saya itu akhirnya tegak lagi dalam tidurnya. Tapi,
lagi-lagi saya diserang rasa bersalah. Rasa bersalah karena menduga hal yang
belum tentu dan diawali kata jangan-jangan itu kepada orang di sebelah saya.
Ya, ini adalah perjalanan rasa bersalah sepanjang kilometer
Probolinggo--Sidoarjo. Saya akhiri perjalanan ini dengan meminta izin lewat
kepada orang di sebelah kiri saya sambil meminta maaf (mungkin dalam hati, saya
sudah tidak ingat), lalu bertanya kepada kondektur apakah tujuan saya sudah
dekat, lalu menyodorkan uang duapuluhribuan sambil mengatakan bahwa saya belum
membayar layaknya penumpang lain. Lalu saya turun dari bus yang membuat saya
merasa bersalah terus menerus itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar