Senin, 18 Juni 2012

Rasa Bersalah


Entah kenapa, sepanjang kilometer ProbolinggoSidoarjo di atas bus hari ini, saya begitu merasa bersalah. Padahal, ini sebenarnya bukan salah saya. Salah kondekturnya selalu melewatkan saya yang duduk di bangku paling pojok bagian paling belakang dan paling kanan, ketika meminta uang karcis penumpang.

Sementara, orang di sebelah kiri saya tertidur, bersandar, tegak lagi, lalu bersandar lagi di pundak saya. Tidak lama memang, tapi saya khawatir terlalu nyaman buatnya dan tidak untuk saya.

Bagaimana tidak, selain orang di sebelah kiri saya itu laki-laki, akhirnya saya tahu kenapa saya selalu dilewatkan ketika hendak membayar uang sebagai seorang penumpang. Orang di sebelah kiri saya itu adalah kenalan si kondektur, yang juga seorang pegawai terminal, yang sedang "nunut" sampai ke tujuan. Mungkin di surabaya.
suasana di bus


Saya mungkin dikira kenalan orang di sebelah kiri saya itu sehingga selalu dilewatkan oleh si kondektur. Ah, apa-apaan ini. Saya jadi merasa bersalah. Merasa tidak tenang dan nyaman sepanjang kilometer yang mengumbar peluh itu. Iya, bau keringat saya sendiri saya tidak tahan, apalagi orang lain. Saya jadi merasa bersalah lagi. Saya berkeringat karena saya merasa bersalah, dan saya merasa bersalah lagi.

Selain itu, ketika orang di sebelah kiri saya itu bersandar agak lama di pundak saya. Saya pun mulai memikirkan hal-hal yang diawali kata "jangan-jangan," dan menurut saya, hal-hal yang diawali kata ulang tersebut selalu bersifat kecurigaan. Saya curiga kalau sampai orang di sebelah kiri saya itu ngiler dan air liurnya menetes di pundak saya.

Entah, kalau sampai itu terjadi, jadi seperti apa bau saya. Bisa kalah bau kambing yang lebih harum saat disate itu. Dan bila itu terjadi, pasti akan bertambah lagi rasa bersalah saya.

Untung saja, hal yang diawali kata ulang jangan-jangan itu tidak terjadi. Dan untung saja, setelah agak lama bersandar di pundak saya orang di sebelah kiri saya itu akhirnya tegak lagi dalam tidurnya. Tapi, lagi-lagi saya diserang rasa bersalah. Rasa bersalah karena menduga hal yang belum tentu dan diawali kata jangan-jangan itu kepada orang di sebelah saya.

Ya, ini adalah perjalanan rasa bersalah sepanjang kilometer Probolinggo--Sidoarjo. Saya akhiri perjalanan ini dengan meminta izin lewat kepada orang di sebelah kiri saya sambil meminta maaf (mungkin dalam hati, saya sudah tidak ingat), lalu bertanya kepada kondektur apakah tujuan saya sudah dekat, lalu menyodorkan uang duapuluhribuan sambil mengatakan bahwa saya belum membayar layaknya penumpang lain. Lalu saya turun dari bus yang membuat saya merasa bersalah terus menerus itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar