![]() |
| Kodok dalam panci |
Pagi-pagi sekali (mungkin tidak pagi sekali bagi yang tidak ikut Waktu
Indonesia Bagian Saya), kaki saya tiba-tiba terguncang. Pertama yang
kanan, lalu yang kiri. Saya khawatir, itu adalah tikus yang sedang
berkeliaran di sekitar saya. Oalah, tolong jangan sekarang. Sebab saya
sedang dilanda kegelisahan.
Entah bagaimana saya harus keluar dari ruangan ini. Ruangan yang di luar jendelanya saya lihat ekor binatang yang mengerikan. Dengan jumlah yang sangat beragam. Setelah ekor, saya melihat tangan, setelah tangan, saya melihat taring. Lalu ekor yang lain, tangan yang lain, dan taring yang lain lagi.
Kaki saya berguncang lagi. Tikus ini mulai menyebalkan. Sebagai orang yang semakin terusik, saya mulia menghardik. Tapi ketika saya membuka mata, itu bukan seekor tikus. Tapi seorang manusia yang adik ibu saya. Laki-laki yang kini bekerja di sebuah perusahaan asuransi swasta berlabel internasional.
Entah bagaimana saya harus keluar dari ruangan ini. Ruangan yang di luar jendelanya saya lihat ekor binatang yang mengerikan. Dengan jumlah yang sangat beragam. Setelah ekor, saya melihat tangan, setelah tangan, saya melihat taring. Lalu ekor yang lain, tangan yang lain, dan taring yang lain lagi.
Kaki saya berguncang lagi. Tikus ini mulai menyebalkan. Sebagai orang yang semakin terusik, saya mulia menghardik. Tapi ketika saya membuka mata, itu bukan seekor tikus. Tapi seorang manusia yang adik ibu saya. Laki-laki yang kini bekerja di sebuah perusahaan asuransi swasta berlabel internasional.





